Apakah kita para "penyiksa" dimata penerus bangsa?

Tulisan ini dibuat dalam rangka Hari Pendidikan Nasional. Tema tahun ini adalah ‘Pendidikan Karakter’.Kebetulan pula belum lama ini seorang teman dekat memperlihatkan sebuah film pendek yg dibuat oleh sekelompok remaja di Jepang tentang ‘Bully’ atau penyiksaan kepada sesama murid oleh teman2nya. Film,terutama akhir ceritanya sangatlah menyentuh. Hal lain karena kebetulan saya melihat status seorang teman guru yg mengeluh bahkan cenderung menghina muridnya.

 

Sebagai seorang guru/pendidik, kita menghabiskan waktu kita mengajarakan banyak hal kepada murid2 kita. Salah satunya sudah tentu tentang menghargai sesama. Kita semua tahu bahwa ‘Menyiksa’ baik secara verbal maupun fisik tidaklah bisa ditoleransi dalam dunia pendidikan. Kita mengajarkan siswa kita untuk tidak menyakiti teman mereka, berbuat dan berkata dengan baik.Ini adalah hal yg cukup mendasar dalam keseharian kegiatan belajar mengajar di kelas.

 

Namun, pernahkah kita menyadari bahwa mungkin saja kita sebagai pendidik adalah orang yang juga merupakan ‘penyiksa’ bagi siswa kita? Seperti tersebut diatas,tulisan ini dibuat karena status Facebook seorang teman guru yang mengeluhkan ketidakmampuan siswanya. Dalam status itu ia seolah menyalahkan sang siswa karena tak mampu memahami pelajaran yang diberikan dan karena berlaku cukup aktif (mungkin cenderung nakal) sebagai seorang siswa Taman Kanak-Kanak. Tiba –tiba saja saya terhenyak dengan kenyataan bahwa saya sebenarnya cukup melihat banyak kejadian seperti ini dalam pekerjaan saya. Saya pernah melihat guru yang adalah bawahan saya kala itu memanggil siswanya dengan panggilan yang cukup menghina .Ada juga yang terang-terangan melakukannya di kelas dan mengakibatkan seisi kelaspun memanggil siswa itu dengan panggilan tersebut. Dan saya juga mengingat dari masa sekolah saya sendiri ,beberapa guru yang mendidik dengan cara seperti itu,bahkan juga memberikan hukuman fisik bagi siswanya. Memang mungkin hal itu dilakukan dengan dasar mencoba menanamkan disiplin serta dilakukan kepada siswa dengan usia lebih besar, namun tetap saja terasa salah.

 

Sebenarnya ,saya dulu percaya bahwa ‘penyiksaan’ baik secara verbal maupun fisik bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan mau belajar lebih giat.Kita menjadi takut terhadap guru tersebut sehingga kita akan belajar keras untuk bisa menguasai pelajaran yang diberikan. Namun pada masa sekarang, saya justru menjadi lebih percaya bahwa yang dilakukan kita sebagai pendidik atas nama pendidikan bisa dikategorikan sebagai ‘Penyiksaan’ terhadap siswa kita. Memberikan nama panggilan dengan tendensi menghina, berteriak dengan hinaan,memberikan sangsi fisik, memandang rendah siswa kita dan masih banyak lagi hal yang mungkin kita lakukan dengan tanpa sengaja. Hal-hal semacam itu sebenarnya dapat membuat seorang siswa menjadi  tersiksa saat mendapatkan pendidikan.

 

Saya mempunyai pengalaman dengan seorang siswa yang saya didik beberapa tahun yang lalu yang sangat tak mampu menguasai bahasa Inggris. Kami pada waktu itu memmanggilnay dengan “flat tongue/lidah rata” karena ia benar2 tak mampu melafalkan perkataan dengan benar. Saya sendiri sedikit putus asa karena Ia selalu melupakan setiap kata yang diajarkan. Namun tak lama saya mendapat kabar bahwa ia mendapatkan beasiswa di Singapura setelah memenangkan lomba karya ilmiah disana.Kala itu Atasan saya mengatakan sesuatu yang sampai sekarang terngiang di kepala saya “Setiap anak cerdas pada bidangnya masing-masing”. Setiap siswa adalah unik dan menjadi kewajiban kita untuk menggali potensi mereka.

 

Tiba –tiba saja saya melihat seluruh siswa saya dengan pandangan berbeda. Saya mennayadari bahwa mungkin tidak semua orang memmpunyai bakat pada bidang yang saya ajarkan yaitu bahasa Inggris.Namun bukan berarti mereka tidak cerdas,mungkin memang bukan bakat dan minat mereka, seperti halnya saya yang sangat tak berminat dan berbakat pada mata pelajaran Kimia misalnya. Sejak saat itu, saya tak lagi membedakan siswa-siswi yang saya didik. Mungkin mereka memang tak akan pernah fasih berbahasa inggris seperti yang saya harapkan, namun selama mereka masih hadir di kelas dengan gembira, mengerjakan tugas dengan kesungguhan, itu sudahlah cukup untuk saya. Saya memang memiliki kebijaksaan ( yang juga selalu saya tekankan pada guru2 arahan saya) untuk tak pernah berkata “Bodoh” kepada seluruh siswa baik secara pribadi maupun di kelas. Saya bahkan juga tak akan mengatakan “kamu salah” ketika siswa saya memberikan jawaban yang bukan pada tempatnya, hanya karena saya sangat sadar bahwa sebagian besar siswa Indonesia sangat takut berbuat salah dan cenderung enggan berpartisipasi di kelas jika mendengar perkataan tersebut dari guru mereka. Dan ketika saya mulai terjun ke pendidikan usia dini ada 2 kata lagi yang menjadi pantangan saya , yaitu “nakal” dan “ jelek” (baik untuk fisik maupun untuk karya mereka)

 

Namun tentu saja tulisan ini bukanlah mengenai saya. Hanya saja saya melihat banyak orang yang seharusnya menjadi pendidik namun memamndang rendah kepada siswa meeka. Bahkan kadang menyalahkan orangtua dan siswa itu atas ketidakmampuan mereka. Selalu saja kesalahan adalah milik siswa dan bukan sang pendidik. Jika memang begitu, bukankah kita juga adalah ‘penyiksa’ bagi siswa kita? Karena pada dasarnya seharusnya kita seharusnya menanggung sebagian tanggung jawab atas ketidak mampuan siswa kita.

 

Dan pada akhirnya saya menyadari mengapa sebagian guru menjadi favorit para siswa dan mengapa sebagian guru adalah momok bagi para siswa. Tentu saja siswa akan takut kepada guru yang galak dan acuh. Mengapa? Guru yang galak cenderung menyerang mereka dengan perkataan (bahkan mungkin hukuman) yang menyakiti mereka. Sedang guru yang acuh membuat mereka merasa tak mampu sebagai seorang pelajar.

 

Jadi mungkin memang guru dapat menjadi ‘Penyiksa’ bagi para siswa baik secara sadar maupun tidak.

 

Dan mungkin hal ini akan menjadi kejutan bagi kita, namun bisa saja mengapa seorang siswa bisa menjadi ‘penyiksa’ bagi siswa lain karena ia melihat contoh dari orang disekitarnya, termasuk kita sebagai pendidik mereka. Kita tak mampu memberikan contoh yang baik sehingga mereka merasa penyiksaan adalah wajar. Banyak dari kita yang marah saat siswa kita tak mampu menjawab pertanyaan. Bahkan mungkin berteriak saat siswa kita tak mampu mendapatkan hasil yang kita inginkan. Secara tak langsung kita mengajarkan agresifitas pada siswa kita untuk mendapatakan hal yang diinginkan.

 

Saya percaya, sebenarnya semua yang kita lakukan bertujuan baik. Kita menginginkan siswa kita berhasil. Kita ingin mereka mengerti semua yang kita ajarkan,sehingga mereka bisa mengapilkasikannya di dunia nyata dan menjadi orang yang berguna.Namun yang perlu diingat adalah, kita juga manusia, punya keterbatasan dan kelemahan. Mungkin secara tak sadar kita menjadi penyebab siswa kita enggan hadir dikelas kita karena perlakuan kita terhadapa mereka walaupun pada dasarnya kita melakukannya bukan atas dasar sentiment pribadi.

 

Tulisan ini tak dibuat untuk menyerang siapapun.Saya sangat percaya bahwa profesi Guru sangatlah Mulia. Tulisan ini hanya sebagai pemberi persepsi bahwa kita sebagai pendidik mungkin secara tak sadar dapat memberi kontribusi buruk dalam perjalanan hidup siswa kita. Harapan saya,kita semua akan menyadari dan mencoba pendekatan baru untuk setiap kesulitan pengajaran di kelas. Bahwa sir Thomas Edison dan Albert Enistein pun pernah dianggap tak mampu oleh guru mereka, namun mereka ternyata mampu membuktikan sebaliknya. Semoga saja kita mempunyai pandangan baru yang lebih baik terhadap siswa kita dan menjadi contoh bagi mereka. Agar kita memperlaukan siswa kita dengan lebih baik.Dan menyadari bahwa kita mempunyai peranan penting dalam membangun mereka sebagai penerus bangsa.

 

Sekali lagi, Selamat Hari Pendidikan Nasional. Dan hidup Guru Indonesia!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s